Kita telah mengenal media massa sebagai fasilitas yang memadai dan merupakan sesuatu "masterpiece" dari kemajuan teknologi dalam masa GLOBALISASI. Dengan media m
assa, kita mudah mendapatkan berbagai informasi atau menyebarkan informasi, atau sebagai sarana penghibur. Berbagai macam bentuk media sudah kita kenal serta mudah didapatkan oleh semua orang dalam semua kalangan. Ya, seperti TV, radio, koran, video games, internet, HP, atau bahkan blog. Dengan internet misalnya, kita dapat mengakses atau menyebarkan informasi dari dan ke manapun dengan mudah, dan kita dengan mudah bisa menikmati fasilitas hiburan di waktu senjang. Tetapi dari semua keuntungan yang berlimpah ini, adakah dampak buruknya? pastinya......
Kita mulai dari yang semua ketahui.
Beberapa media massa seperti TV atau film, membawa manusia ke dunia hiburan di mana secara tak sadar, apakah itu dari kaum berpendidikan atau tidak, akan mempengaruhi jalan berpikirnya seseorang. Film-film action, horror, thriller atau isi yang vulgar dan membawa kesadisan dapat membawa persepsi manusia menuju interaksi mereka terhadap kehidupan mereka.Seperti contohnya kasus
"Smackdown" yang memakan korban anak-anak di Bandung dan daerah lainnya.....kita semua mengetahui itu kan? Maksudnya, dampak seperti ini sudah seharusnya dijelaskan di dunia pendidikan terutama dalam pelajaran budi pekerti atau sosiologi dalam sekolah misalnya. Perlu diajarkan , bahwa media massa dapat memberikan
"wawasan dan pemahaman hidup" kepada para pengguna media massa sesuai dengan imajinasi mereka. Seperti sinetron yang isinya percintaan, harta, menangis, amarah, yang maksudnya memberikan hiburan kepada para penonton , tapi dampaknya bisa mempengaruhi emosional atau pola pikir seseorang. Atau dalam dunia video games yang berisikan aksi sadis dan kekerasan, walaupun game ini diberi batas umur tetapi tetap saja dikonsumsi oleh berbagai kalangan (contoh: Grand
Theft Auto). Game ini memberikan persepsi imajinatif kepada pola pikir pemain game.Sebagai contohnya kejadian yang menimpa Amerika yang dikenal dengan "Columbine High School Massacre", suatu peristiwa yang diakibatkan 2 penembak yang terpicu emosinya untuk menembak teman-temannya sendiri karena pengaruh bermain game
Doom yang saat itu dikenal sebagai game tersadis dan memuja setan namun seru untuk dimainkan. Ini semua intinya media massa dapat mengajarkan pola pikir, bahasa, dan gaya hidup yang bisa tidak patut diterapkan di kalangan manapun.
Dari yang saya ketahui, dunia informasi dalam media cetak atau dalam berita-berita aktual di TV atau radio dapat kita amati. Hampir tiap hari kita dengar istilah......
"TAWURAN", "MUTILASI", "POTONGAN MAYAT KORBAN.....", "PEMBUNUHAN", "ABORSI", "DITEMUKAN MAYAT SEORANG BALITA.....". Apa nggak mual karena setiap hari dijejelin berita yang isinya seperti itu ? Bayangin, misalnya para

pembacanya punya anak masih SD, dan guru mengajarkan di sekolah "membaca atau menonton berita itu bagus, karena memberi informasi dan memberi wawasan luas.....". Tentunya anak-anak yang masih lugu akan mendengarkan apa yang dikatakan gurunya. Tetapi ketika menonton atau membaca berita, tersaji "Korban mutilasi, telah ditemukan mati mengenaskan, diperkirakan bagian-bagian tubuh korban telah berpencar.......", apa dampak, bagi si anak.Dan keesokan harinya si anak disajikan lagi, "Korban tawuran mati mengenaskan....."; Dan hari berikutnya lagi berita tentang"Aborsi". Sehingga bagi seorang anak yang tidak layak menyaksikan semua ini karena masih di bawah umur, sejak dini sudah diperkenalkan kekerasan dan kekejaman dunia. Ini lama kelamaan kejadian ini menjadi hal biasa bagi si anak dan ini akan sungguh berpengaruh besar bagi masa depannya, apakah itu dalam hidupnya atau sebagai pola pikirnya.
Belum lagi pemberian materi-materi dalam kasus tersebut, dijelaskan secara detail dengan kalimat-kalimat yang bisa dibilang
"LEBAI" atau seperti ditunjukkan jasad korban tersebut baik disensor total , setengah atau bahkan sama sekali tidak disensor. Contohnya pernah saya saksikan di suatu saluran TV menyiarkan perlawanan antara Indonesia dengan pemberontak Aceh ketika itu masih ada GAM . Dalam tayangan itu diperlihatkan aksi perlawanan dari awal bermulai hingga korban berjatuhan. Selanjutnya disorot jasad seorang pemberontak Aceh dengan kepala pecah sebagian karena luka tembak dan
tanpa disensor serta ditayangkan jam 7 malam.Apakah ini cara dan waktu penayangan yang tepat?
Contoh lain dalam sajian yang menyinggung agama atau ras, dengan menampilkan berita yang berlebihan mengenai kekerasan dari suatu golongan yang dapat memberikan pola pikir yang buruk bagi antar golongan , walaupun secara tak langsung. Seperti misalnya berita mengenai
"TERORIS AL-QAIDA.....", "MILITAN TIM
UR TENGAH.....". Bisa saja, sajian ini memberikan persepsi negatif bagi golongan lain terutama dari dunia Barat seperti Amerika terhadap kerasnya Timur Tengah, yang secara otomatis persepsi beralih ke agama.Sehingga Islam akan selalu disalahkan oleh beberapa pihak yang belum mengerti. (itupun kalau memang terorisnya TimTeng yang berasal dari ekstrimis Islam, kalau kenyataan mereka merupakan rekayasa konspirasi ?).
Berita-berita seperti inilah yang dapat memberikan pola pikir buruk bagi masyarakat dalam atau luar negeri. Sebagai contoh turis sedang berada di Indonesia , mereka menyaksikan berita itu di Indonesia tapi tidak ada berita baik , hanya berita buruk seperti bencana, kematian, dan kriminalitas. Mereka pasti akan berpendapat betapa buruknya Indonesia ini, sehingga berita dan persepsi ini disebarkan dan akibatnya akan timbul image secara global mengenai keburukan dan kebodohan bangsa Indonesia. Belum lagi dari rakyat sendiri yang selalu menyaksikan berita buruk tersebut yang telah berlangsung selama ini. Contoh lain saat ini selain kriminalitas, sedang ramai berita mengenai pencalonan warga biasa untuk menjadi caleg, dengan cara yang tidak menarik? misalnya menampilkan poster mereka sendiri di samping pahlawan nasional?kemudian berita adanya upaya menjual rumah mereka agar bisa menjadi caleg? menampilkan image anaknya yang artis walaupun bapaknya yang ingin menjadi caleg? Kebodohan caleg sebagai warga Indonesia akan terpaparkan di sini. Sehingga memberikan pola pikir bagi kita sendiri yang menimbulkan antipati terhadap negara sendiri sehingga hilanglah nasionalisme.
Kemudian mengenai berita infotaiment. Berita ini menghabiskan waktu masyarakat karena sangat digemari. Masyarakat begitu antusias mengikuti kasus dari suatu artis yang digunakan sebagai
"tumbal" demi keuntungan perusahaan infotaiment. Ditambah lagi dengan berita kawin-cerai artis yang begitu sering, yang menimbulkan suatu gaya hidup baru bagi masyarakat, yaitu perselingkuhan, kawin muda, cerai-muda atau cerai-tua menjadi suatu hal yang biasa dalam kehidupan. Sehingga akibatnya meningkatnya kasus kawin cerai di tahun ini tidak hanya didunia selebritis tapi sudah melanda masyarakat biasa.
Mau contoh yang lain ? Coba ikuti , iklan yang sedang ramai seperti iklan berlangganan di handphone yang dikenal dengan REG SPASI BLA BLA BLA .Ini iklan yang menghabiskan waktu masyarakat dengan percuma.Iklan yang mengajarkan pemirsa untuk mendapatkan duit dengan mudah tanpa kerja hanya dengan undian (sepertinya sih undian, atau itu judi?).
Berita atau tayangan yang dibahas diatas ini sudah melanda kehidupan kita.Informasi yang disampaikan ini bisa memberikan hasil atau dampak yang berbeda.
Hal seperti ini dinamakan
Subliminal Message, yaitu memaparkan suatu pesan kepada masyarakat dengan tersembunyi dengan melewati jauh dari medium persepsi pikiran manusia. Diterapkan secara tak langsung. Mungkin kita tak menyadari akan adanya pesan-pesan tersebut. Kita hanya menyaksikan suatu media yang biasa-biasa saja dengan berisikan materi yang biasa. Tetapi ada maksud-maksud tertentu jauh dari pola pikir kita. Perhatikan kalimat-kalimat dari suatu berita, tayangan atau permainan game tersebut, bisa saja memiliki makna tertentu, di mana menjelaskan suatu hal secara tak langsung.
Akhirnya memang peran dari perusahaan media massa , itu ingin menampilkan berita aktual dan tayangan yang menarik. Tetapi terkadang mereka lebih menampilkan sisi buruk dari masyarakat ini dan mereka memberikan informasi atau tayangan itu terlalu berlebihan. Apakah mereka akan menyadari dampak dari hal ini ? Saya ragu........